Rabu, 25 April 2018

Kasus Suap - KPK Periksa 20 Anggota DPRD Sumatera Utara Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kasus Suap Gatot Pujo Nugroho, KPK Periksa 20 Anggota DPRD Sumatera Utara,

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengagendakan pemeriksaan terhadap anggota DPRD Sumatera Utara terkait dugaan penerimaan suap dari mantan Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho.

"Hari ini diagendakan pemeriksaan terhadap 20 anggota DPRD Provinsi Sumut," ujar Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah.

Pemeriksaan dilakukan seperti dua hari sebelumnya, yaitu di kantor Kejaksaan Tinggi provinsi Sumut.
Uang tersebut diduga digelontorkan Gatot kepada anggota tersebut untuk persetujuan laporan pertanggungjawaban Pemprov Sumut tahun anggaran 2012-2014.

Selain itu, suap yang diberikan ini terkait dengan persetujuan perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah Sumut tahun anggaran 2013 dan 2014.

Serta pengesahan anggaran pendapatan dan belanja daerah Sumut tahun anggaran 2014 dan 2015.

Mereka disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 64 Ayat (1) dan Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Selasa, 10 April 2018

Wanita di Nilai karena Wajahnya

Kebanyakan perempuan ingin memiliki wajah yang cantik jelita. Mereka pun tak masalah meski menghabiskan banyak uang untuk melakukan perawatan wajah. Tak hanya itu saja, kaum hawa juga harus menyiapkan dana yang tak sedikit untuk make up. Begitu juga yang dilakukan oleh seorang perempuan asal Inggris, Sophia Ridlington. Sophia Ridlington merupakan perempuan yang rajin memakai make up kemanapun ia pergi. Ia mengaku lebih percaya diri jika dilihat dengan riasan wajah.

Namun, di satu sisi Sophia Ridlington juga ingin menunjukkan dirinya yang sebenarnya ke orang lain. Sophia pun menghapus make upnya dan menunjukkan wajah tanpa riasan ke kekasihnya. Ternyata, pacar Sophia bukanlah pria baik-baik seperti yang selama ini diharapkannya. Pria tersebut malah memutuskan hubungan dengan Sophia setelah melihat wajah tanpa make upnya.

"Mantanku tak mau bersamaku, hatiku hancur, dia tak menerimaku apa adanya," ungkap Sophia.

Sophia Ridlington memang menderita penyakit kulit Psoriasis yang membuat kulitnya penuh bintik merah. Itulah sebabnya Sophia selalu memakai make up karena malu saat ada yang melihat penyakitnya. Tapi di saat ia ingin menunjukkan jati diri, kekasih yang dirasa bisa mendukungnya malah meninggalkannya.Sophia Ridlington juga sering memakai baju lengan panjang dan celana panjang untuk menutupi penyakitnya.

"Aku selalu memakai baju lengan panjang dan celana panjang setiap keluar rumah," ujarnya.

"Sulit sekali bagiku ketika orang-orang melihatku seakan aku berbeda dari mereka," tambahnya.

Untungnya, penyakit dan pengalaman pahit itu tak membuat Sophia patah semangat. Ia sekarang sedang mendalami make up untuk mewujudkan keinginannya jadi make up artist profesional. Sophia ingin kisahnya dapat menjadi motivasi untuk orang yang mengalami nasib serupa.

"Aku berharap bisa mendukung orang-orang di posisi yang sama denganku untuk menerima Psoriasis mereka," katanya.

Melalui akun Instagramnya, Sophia juga mengumumkan bahwa kini keadaannya semakin membaik. Wajahnya tak lagi terdapat bintik-bintik merah seperti sebelumnya.

10 pekerjaan riskan melakukan perselingkuhan

10 pekerjaan yang paling berisiko melakukan perselingkuhan:

1. Keuangan (Bankir)

2. Penerbangan (Pilot, Pramugari)

3. Perawat Kesehatan (Dokter, Perawat)

4. Bisnis (Manajer, Sekertaris)

5. Olahraga (Altet, instruktur)

6. Seni (Musisi, Model, Selebritas)

7. Industri Hiburan Malam (Penari, Pelayan)

8. Komunikasi (Jurnalis, Pulic Relation)

9. Hukum (Pengacara, Sekertaris)

10. Sektor lain

Rabu, 07 Maret 2018

Wanita Lebih Nyaman Selingkuh dengan Teman Sekantor

Tak hanya di kalangan selebritas, perselingkuhan juga bisa terjadi di banyak profesi lainnya.

Yang jelas, melakukan perselingkuhan di kantor dengan rekan kerja bukan ide yang bagus untuk kelangsungan pernikahan Anda.

Meski demikian, terkadang perselingkuhan menjadi sulit dihindari karena sebagian besar waktu Anda dihabiskan di kantor.

Medicaldaily.com pernah mencari tahu hubungan antara profesi dengan risiko berselingkuh terbesar.

Victoria Milan sebuah situs yang menangani seputar kencan dan perselingkuhan memberikan penjelasan mengenai beberapa pekerjaan yang masuk dalam unggulan di dalam survei tersebut.

Menurut Victoria Milan, perselingkuhan sangat mungkin dilakukan para bankir karena berprofesi sebagai pegawai bank cenderung perlu menipu daripada pekerjaan lain.

Melansir dari Mirror.co.uk, menurut penelitian teradapat 10 sektor pekerjaan yang rentan mengalami perselingkuhan.

Fakta ini berasal dari jajak pendapat yang dilakukan kepada 5.658 wanita karir.

Hasilnya, sekitar 65% wanita mengaku mereka tidak setia dengan pasangannya karena memiliki selingkuhan di kantor.

Tetapi, 85% diantaranya memilih untuk tidak berhubungan terlalu jauh dengan selingkuhan.
Survei tersebut juga menunjukan perilaku positif orang-orang yang melakukan perselingkuhan di kantor ternyata lebih merasa nyaman berada di kantor.

Rasa nyaman ini cenderung membuat produktivitas pekerja yang berselingkuh meningkat.

Para pekerja yang melakukan perselingkuhan bahkan menganggap kantor sebagai tempat yang ideal untuk berkencan.

Meski membuat produktivitas naik, perselingkuhan di tempat kerja tetaplah berisiko.

Sekitar 70% wanita mengaku hubungan perselingkuhan biasanya bersifat sementara dan dapat kandas sewaktu-waktu.

Tentu sulit bekerja bersama mantan selingkuhan di dalam lingkungan yang sama.

Lebih dari 21% wanita khawatir mengenai rumor perselingkuhan di kantor yang mungkin sampai ke telinga pasangan resmi.

Di sisi lain, hanya 10% wanita yang menganggap perselingkuhan dapat menghambat karir mereka.

Sigurd Vedal, pendiri Victoria Milan mengatakan kesimpulan survei yang menunjukan bahwa orang lebih menikmati kehidupannya daripada karir.

"Survei tersebut dengan jelas menunjukkan meskipun ada risiko bagi karir Anda, berselingkuh di tempat kerja membuat hidup jauh lebih menyenangkan," papar Vedal.

Sedangkan alasan lainnya disebabkan oleh sensasi dari perselingkuhan untuk mengurangi kebosanan kehidupan rumah tangga.

Namun demikian, Psikolog Jay Kent Ferraro menemukan fakta perselingkuhan di kantor bukan penyebab utama dari perceraian.



Jumat, 19 Januari 2018

Kenapa Kencan dengan Rekan Kerja

Hubungan di lingkungan kerja bisa dikatakan sebagai hal lucu dan menyenangkan.

Pasalnya, biasanya kita akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman sekantor dibanding dengan teman satu flat, bahkan pasangan.

Dilansir dari Independen.co.uk, sekitar 17% orang bahkan memiliki pasangan hidup di tempat kerja yang bisa saling bertukar ide, berbicara tentang keluhan pekerjaan hingga sama-sama merasa nyaman.

Menurut penelitian totaljobs, 22% orang bertemu pasangan romantis mereka di tempat kerja.
Sementara itu, 13% pertemuan online, 18% bertemu melalui teman, dan 10% bertemu secara tiba-tiba di malam hari.

"Kebanyakan orang dewasa menghabiskan minimal 1.680 jam per tahun di kantor, sehingga Anda cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan rekan kerja," kata David Brudö, CEO dan salah satu pendiri aplikasi kesehatan mental Remente kepada Independent.co.uk.

Ia menambahkan bahwa bekerja di kantor memberi peluang untuk mengenal seseorang dengan cara yang lebih intin dibanding aplikasi kencan.

Hubungan di lingkungan kerja bisa dikatakan sebagai hal lucu dan menyenangkan.

Pasalnya, biasanya kita akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman sekantor dibanding dengan teman satu flat, bahkan pasangan.

Dilansir dari Independen.co.uk, sekitar 17% orang bahkan memiliki pasangan hidup di tempat kerja yang bisa saling bertukar ide, berbicara tentang keluhan pekerjaan hingga sama-sama merasa nyaman.

Menurut penelitian totaljobs, 22% orang bertemu pasangan romantis mereka di tempat kerja.

Sementara itu, 13% pertemuan online, 18% bertemu melalui teman, dan 10% bertemu secara tiba-tiba di malam hari.

"Kebanyakan orang dewasa menghabiskan minimal 1.680 jam per tahun di kantor, sehingga Anda cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan rekan kerja," kata David Brudö, CEO dan salah satu pendiri aplikasi kesehatan mental Remente kepada Independent.co.uk.

Ia menambahkan bahwa bekerja di kantor memberi peluang untuk mengenal seseorang dengan cara yang lebih intin dibanding aplikasi kencan.

Survei terhadap 5.795 pekerja UK mengungkapkan bahwa dua dari tiga orang akan siap untuk berkencan dengan seorang rekan, sementara sepertiga sisanya tidak akan pernah memimpikannya.

Alasan utama mereka yang ragu-ragu akan hubungan cinta dengan rekan sekantor adalah kekhawatiran bahwa mereka tidak bisa membagi pikiran untuk pekerjaan dan percintaan.

Disamping itu, ada pula aturan lama yang melarang hubungan cinta antar rekan kerja.

Ada hal lain yang perlu dipertimbangkan juga.


Sekitar 60% dari mereka yang disurvei mengatakan mereka merasakan tekanan untuk bertindak lebih profesional ketika mereka berada dalam hubungan kerja, dan 51% mengatakan mereka khawatir tentang gosip.

Senin, 14 April 2014

Geledah Kasus Dermaga Sabang

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah sejumlah lokasi terkait kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan tersangka Heru Sulaksono, kemarin. Kasus TPPU ini adalah pengembangan dugaan korupsi Proyek Pembangunan Dermaga Pongkar pada Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, Provinsi Aceh pada tahun 2006-2010.

Juru Bicara KPK Johan Budi SP menjelaskan, penggeledahan itu dilakukan di 2 lokasi berbeda. Pertama di sebuah rumah milik Heru di Jalan Malaka Biru IV Nomor 14, RT 10/RW 10, Kelurahan Pondok Kopi, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Dari rumah itu, kata Johan, penyidik menyita mobil Honda CRV B 1615 HE.

"Kemudian disita juga uang US$ 37.390 dan Rp 50 juta. Kemudian mobil CRV disita, mobil itu atas nama Rina Puspita‎," beber Johan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (11/4/2014).

Kemudian, lanjut Johan, penggeledahan kedua berlangsung di rumah salah seorang saksi kasus ini, yakni Didik Priyanto. Lokasinya di Taman Kedoya Permai di Jalan Limas I B5 Nomor 16, RT 07/RW 07, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

"Di rumah Didik penyidik menyita mobil VW jenis Beatle nomor B 1117 RH. Mobil ini atas nama Didik Priyanto," ujarnya. Penyitaan-penyitaan itu dilakukan, lanjut Johan, karena diduga berkaitan dengan TPPU yang dilakukan dengan Heru.

Dalam kasus dugaan korupsi ini, KPK telah menetapkan 3 orang sebagai tersangka pada Agustus 2013. Ketiga tersangka itu adalah Ramadhani Ismy, Heru Sulaksono, dan Syaiful Achmad.

Ramadhani adalah pejabat pembuat komitmen (PPK) Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang pada BPKS, Heru merupakan Kepala PT NK Cabang Sumatera Utara dan Aceh merangkap kuasa Nindya Sejati Joint Operation, dan Syaiful adalah Kepala Badan Pengelolaan Kawasan Sabang periode 2006-2010.

Ketiga tersangka diduga melakukan perbuatan melawan hukum dan penyalahgunaan wewenang untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau suatu korporasi terkait pembangunan dermaga bongkar di Sabang. Akibatnya, negara diduga mengalami kerugian sekitar Rp 249 miliar.

Oleh penyidik, Ramadhani dan Heru disangka melanggar pasal 2 ayat 1 subsider pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) juncto pasal 65 ayat 1 KUHP.

Sedangkan Syaiful dijerat dengan pasal 2 ayat 1 atau pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Tak cuma itu, dalam pengembangan kasus ini, Heru juga ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Heru diduga melanggar pasal 3 dan atau pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU dan atau pasal 3 ayat 1 atau pasal 6 ayat 1 UU Nomor 15 Tahun 2002 tentang TPPU sebagaimana diubah dengan UU 25 Tahun 2003 tentang TPPU juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah sejumlah tempat di Jakarta, terkait kasus dugaan tindak pidana pencucian uang tersangka Heru Sulaksono. Kasus TPPU ini merupakan pengembangan dari kasus dugaan korupsi Proyek Pembangunan Dermaga Pongkar Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, Provinsi Aceh pada 2006-2010.

"Perlu diinformasikan bahwa siang hari ini, terkait dengan penyidikan dugaan TPPU dengan tersangka HS, terkait dengan kasus Pembangunan Dermaga Sabang. Penyidik melakukan penggeledahan," kata Juru Bicara KPK Johan Budi SP di Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Johan penggeledahan ini dilakukan di sebuah rumah di Jalan Malaka Biru IV Nomor 14 RT 10 RW 10 Kelurahan Pondok Kopi, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Kemudian di Apartemen Salemba di Jalan Pramuka, Jakarta Pusat. Dan sebuah rumah di Taman Kedoya Permai di Jalan Limas I B5 Nomor 16, RT 07/RW 07 Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Dalam kasus dugaan korupsi ini, KPK telah menetapkan 3 orang sebagai tersangka pada Agustus 2013 lalu. Ketiga tersangka itu adalah Ramadhani Ismy, Heru Sulaksono, dan Syaiful Achmad.

Ramadhani adalah pejabat pembuat komitmen (PPK) Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang di Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS). Sementara Heru merupakan Kepala PT NK Cabang Sumatera Utara dan Aceh, merangkap kuasa Nindya Sejati Joint Operation, dan Syaiful adalah Kepala Badan Pengelolaan Kawasan Sabang periode 2006-2010.

Ketiga tersangka diduga melawan hukum dan menyalahgunakan wewenang dengan memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau suatu korporasi terkait pembangunan dermaga bongkar di Sabang. Akibatnya, negara diduga mengalami kerugian sekitar Rp 249 miliar.

Oleh penyidik, Ramadhani dan Heru disangka melanggar Pasal 2 Ayat 1 subsider Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP juncto Pasal 65 Ayat 1 KUHPidana.

Sedangkan Syaiful dijerat Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Tak cuma itu, dalam pengembangan kasus ini, Heru juga ditetakan tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Heru diduga melanggar Pasal 3 dan atau Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU dan atau Pasal 3 ayat 1 atau Pasal 6 ayat 1 UU Nomor 15 Tahun 2002 tentang TPPU, sebagaimana diubah dengan UU 25 Tahun 2003 tentang TPPU juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
Penyidik KPK melakukan penggeledahan sebuah rumah di Jalan Malaka Biru IV, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Dari penggeledahan terkait kasus dugaan korupsi proyek dermaga di Sabang itu, KPK menyita 1 mobil.

Rumah bernuansa kuning itu diketahui milik Heru. Namun, belum diketahui apa kaitannya sang pemilik rumah dengan kasus tersebut.

KPK sudah berada di rumah itu sejak pukul 11.00 WIB. 2 Jam kemudian, petugas sudah meninggalkan kompleks Malaka Country. Petugas diketahui menyita 1 unit mobil Honda CRV cokelat dari rumah itu.

"Petuganya pakai Elf sama Innova. Terus di belakangnya mobil Pak Heru CRV juga dibawa," kata salah seorang petugas keamanan komplek yang tak mau disebutkan namannya, Kamis (10/4/2014).

Petugas keamanan itu menjelaskan, saat pengeledahan anggota keluarga itu lengkap sedang berada di rumah termasuk Heru dan istrinya.

"Tadi mah memang lengkap ada semua. Pak Herunya ada istrinya ada. Saya tahu itu mobil Pak Heru karena memang setiap hari mobil itu dipakai," lanjutnya.

Saat ini pnggeledahan sudah selesai. Rumah bernuansa kuning itu tampak sepi. Di halaman rumah hanya terparkir sebuah mobil Toyota Vios dan sebuah motor Honda Vario.

Tak terlihat aktivitas yang menonjol dari rumah itu. Hanya ada 2 anjing yang terus menggonggong saat awak media mendekati pagar rumah.

Sebelumnya, KPK resmi menetapkan bekas anggota DPR dari Fraksi PAN Teuku Saiful Achmad sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan dermaga bongkar di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, Aceh. Dalam kasus ini, diduga terjadi penggelembungan nilai proyek sehingga merugikan negara Rp 294 miliar.

Mengungkap Praktik Kadi Liar di Aceh

LELAKI muda itu tampak resah. Sesekali matanya melihat orang-orang di sekitar yang jumlahnya tidak sampai sepuluh. Malam itu jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB saat ia dan wanita di sampingnya duduk terdiam. Tidak ada yang istimewa tergambar dari raut wajah keduanya, kecuali perasaan gelisah menyelimuti seisi rongga dada. Lelaki muda itu, sebut saja namanya Roy, adalah calon pengantin yang akan menikahi wanita idamannya, Rin (bukan nama sebenarnya). Keduanya telah memutuskan untuk menikah pada seorang kadi liar (penghulu). Malam itu menjadi momen paling sakral bagi keduanya. Hanya saja Roy dan Rin tak menjalani prosesi pernikahan yang semestinya seperti pernikahan umumnya yang tercatat di KUA.

Roy masih berusia 25 tahun. Perantau asal Sigli di Banda Aceh ini memilih mempersunting wanitanya, yang asal Banda Aceh di depan seorang kadi. Momen ijab kabul itu berlangsung malam hari, dan hanya diketahui oleh beberapa teman Roy dan beberapa orang dari Rin, yang menurut pengakuan mereka adalah keluarganya.

Tgk Kadi, tidak banyak bertanya atau menelisik lebih jauh siapa orang-orang yang dibawa kedua mempelai malam itu, sampai proses akad nikah berlangsung. “Pakiban peu kabereh. (Bagaimana sudah beres)” kata Tgk Kadi kepada Roy yang malam itu tampak sedikit resah. “Ka (sudah),” sahut Roy dengan suara pelan.

“Peu jih yang bereh (apanya yang beres),” tanya Tgk Kadi lagi.

Sesaat kemudian, Roy menyerahkan sebuah amplop berisi uang senilai Rp 500.000. Seusai melihat sebentar, Tgk Kadi melanjutkan tugasnya.

“Kajeut tamulai. (Sudah bisa dimulai),” ujar lelaki itu. Suasana mendadak sepi dan hening.

Prosesi akad nikah diawali lantunan ayat suci Alquran. Tgk Kadi kemudian melanjutkan tausyiah singkat, memberi pesan-pesan nasehat kepada kedua mempelai. Intinya kedua mempelai harus saling menjaga, dan berkasih sayang dalam membina biduk rumah tangga yang sebentar lagi akan mereka arungi bersama, nyaris seperti ceramah umumnya pada hari pernikahan. Tidak berapa lama kemudian, Kadi meminta diperlihatkan mahar.

Semula Roy akan mempersunting Rin dengan mahar tiga mayam emas. Tapi lelaki itu hanya mempu membawa dua mayam emas. Tgk Kadi memakluminya, dengan memberi catatan satu mayam lainnya sebagai utang yang harus dilunasi Roy setelah menikah. Pada akhirnya tibalah saatnya Roy mengucapkan ijab kabul dengan Tgk Kadi sebagai wali nikah si mempelai wanita. Roy ternyata benar-benar tak siap. Lafaz ijab kabul yang semestinya sesuatu yang sakral, berubah menjadi momen yang membuat seisi ruangan rumah sesak menahan tawa. Soalnya Roy kesulitan mengucapkan ijab kabul, sampai ia harus mengulangnya berkali-kali. Baru pada hitungan ketujuh kali setelah Tgk Kadi menuntunya, ia berhasil. Sejak malam itu, Tgk Kadi memutuskan Roy dan Rin sudah menjadi suami istri.

“Malam nyoe pih kajeut wo u rumoh (malam ini juga sudah bisa pulang ke rumah),” ujar Tgk Kadi, lega. Selembar surat keterangan dari Tgk Kadi memperkuat bukti kalau keduanya sudah menjadi suami istri. Surat keterangan telah menikah itu langsung dapat dibawa pulang malam itu, bertuliskan dengan huruf mesin tik manual dalam kondisi dipres lengkap dengan tanda tangan Tgk Kadi dan dua foto mempelai.

Cerita pernikahan Roy dan Rin ini dituturkan seorang sumber yang ikut menyaksikan proses jalannya pernikahan pada seorang kadi liar di Banda Aceh.

“Semula saya diajak untuk menemani saja. Ketika sudah sampai saya juga ikut terkejut,” ujarnya. Peristiwa ini terjadi pada 2012 di sebuah rumah di sekitar Banda Aceh. Sumber tersebut juga mengaku melihat beberapa pasangan lainnya yang antre di luar ruangan dengan tujuan menikah pada malam itu.

Praktik menikah pada kadi liar memang bukan lagi isapan jempol. Kasus terbaru terjadi Jumat, 11 April 2014. Petugas WH Bireuen mengamankan satu pasangan yang diduga telah menikah pada kadi liar. Pasangan tersebut berinisial H dan M, warga Kecamatan Jeunieb, Bireuen. Pasangan ini ditangkap warga di kawasan Kecamatan Jeunieb. Komandan WH Bireuen, Usman Kelana mengatakan keduanya telah menikah pada kadi liar di Banda Aceh pada 4 April 2014.

“Pasangan itu kami jemput dari Jeunieb setelah sebelumnya sempat diamankan warga di salah satu desa kawasan Jeunieb,” kata Usman, Sabtu 12 April 2014.

Lelaki H mengaku dirinya sudah menikah dan punya seorang anak berumur enam tahun. Namun dua bulan lalu, H telah bercerai dengan istrinya. Sedangkan pasangan barunya M merupakan janda tiga anak, yang suaminya telah meninggal.

“Pada 4 April 2014 lalu kami menikah pada kadi di kawasan Lampeuneurut, Aceh Besar dengan membayar Rp 200.000 untuk kadi tersebut,” kata H.

Untuk membuktikan ucapannya itu, H mengaku mengantongi surat keterangan telah menikah yang dikeluarkan samg kadi. “Setelah menikah, dia (M) pulang ke Jeunieb. Lalu saya menyusul M ke Jeunieb. Baru satu malam di Jeunieb kami ditangkap dan dibawa ke meunasah gampong,” kata H, polos.







SEPERTI tercium tapi tak teraba. Fenomena kadi liar masih marak terjadi di berbagai wilayah di Aceh. Ada terselubung, juga ada yang terang-terangan. Beberapa kasus di antaranya baru diketahui setelah ada pasangan yang tertangkap. Praktik yang melibatkan ‘Tgk Kadi’ ini di sebagian wilayah malah ramai didatangi para ‘calon pengantin’. Lantas mengapa menikah menggunakan jasa kadi liar masih diminati masyarakat? Bagaimana pula modus para kadi liar menggaet pasangan pengantin? menelusurinya dalam liputan eksklusif edisi ini.

RUANGAN itu diterangi cahaya seadanya. Di dalamnya, samar-samar terlihat satu set pelaminan adat Aceh tertata rapi. Hanya ada satu kasur berbalut kain kasa, bantal dan beberapa aksesoris. Di dominasi warna kuning keemasan berhiaskan berbagai pernak-pernik khas Aceh membuat ruangan seluas 3x4 meter itu berbeda dengan dua ruang lain di depannya.

“Ruangan ini hanya kami gunakan kalau ada pasangan yang menikah,” kata Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, M Iqbal SAg MH saat ditemui di kantornya Jumat (11/4) lalu. Ruangan ini menjadi saksi bisu atas prosesi ijab kabul banyak pasangan calon ‘pengantin’ yang harus menikah kembali setelah pernikahan mereka terdahulu tidak diakui negara.

“Kami tidak mencatat berapa jumlahnya. Tapi kasus seperti ini banyak kami temukan. Ini menunjukkan masih maraknya pasangan yang menikah pada kadi liar tanpa mengikuti prosedur resmi yang diatur negara, akhirnya (mereka) harus menikah kembali,” katanya.

Selayaknya pengantin baru, mereka yang dinikahkan kembali di kamar kantor KUA itu mengikuti aturan negara. Tanggal pernikahan juga dicatat petugas pencatat nikah (PPN) di KUA saat hari mereka melangsungkan pernikahan. “Jadi tanggal pernikahannya bukan hari saat pasangan itu menikah dulu,” ujar Iqbal yang mengepalai KUA Ulee Kareng sejak 2011.

Penelusuran, praktik kadi liar ini sulit terendus karena terorganisir rapi, dan beroperasi sembunyi-sembunyi. Konon, beredar kabar, para kadi juga ikut memakai jasa agen untuk mendapat ‘pelanggannya’.

Dokumen yang diperoleh setidaknya ada lima titik lokasi kadi liar beroperasi di Banda Aceh. Para kadi liar ini diduga juga menampung pasangan bermasalah. Dalam praktiknya, kadi bersangkutan hanya mengeluarkan selembar surat berisikan identitas kedua belah pihak, mahar, saksi dan kadi yang menikahkan. Surat nikah itu tidak menyebutkan status kedua mempelai (jejaka/duda atau perawan/janda).

“Padahal status pasangan dalam pernikahan sangat penting untuk menghindari kesalahan menikahkan seorang perempuan yang sudah bersuami atau menikahkan seorang lelaki yang beristri tanpa izin dari istri pertama,” ujar Iqbal yang ikut meneliti praktik nikah siri di Banda Aceh.

Menurut Kepala KUA Ulee Kareng ini, kasus pernikahan liar justru banyak diketahui setelah ada pasangan yang sudah menikah tertangkap, atau mereka melapor sendiri ke KUA setempat untuk mengurus buku nikah guna membuat akte kelahiran anak, atau mengurus surat cerai.

“Melalui laporan yang masuk ke KUA tersebut baru diketahui, pasangan yang bersangkutan ternyata telah menikah pada kadi liar,” ujarnya.

Setelah menemui seorang kadi yang beroperasi di Kota Sabang. Namanya, Abu Thalib, Keuchik Gampong Balohan, Kecamatan Suka Jaya, Kota Sabang. Lelaki ini kerap dilabelkan sebagai “KUA Keliling.” Ia mengakui sudah menikahkan 500 lebih pasangan suami istri.

Di Kabupaten Bireuen, petugas Wilayatul Hisbah (WH) setempat berhasil mengamankan empat kadi sepanjang satu tahun terakhir.

Dua kadi beroperasi di Kecamatan Peudada dan dua lainnya di Kecamatan Peulimbang dan Gandapura.

“Pasangan yang dinikahkan oleh kadi liar sering ditangkap warga, lalu dinikahkan kembali di kantor KUA. Sedangkan kadi liar membuat pernyataan tidak mengulangi lagi perbuatannya,” kata Komandan WH Bireuen, Usman Kelana.

Menikah menggunakan jasa kadi liar terbilang lebih mudah. Pasangan cukup menyiapkan uang Rp 400-Rp 600.000 sebagai biaya nikah. Soal wali nikah, tidak perlu rumit. Kadi hanya menyediakan saksi nikah dengan imbalan Rp 50.000 per orang. Usai akad selesai, pasutri mendapat selembar surat keterangan nikah dari sang kadi.

Menurut seorang kadi liar yang ditemui, kebanyakan pasangan yang menikah sudah berhubungan layaknya suami istri. Bahkan ada yang hamil duluan. Selain itu, ada juga pasangan yang sudah berkeluarga, tapi sudah bercerai dengan suami atau sudah cerai dengan istri pertama.

“Ada juga yang berlasan hubungan mereka tidak direstui orang tua atau keluarga, ada juga karena sudah duluan berhubungan badan, tapi tidak ada uang. Lalu memilih menikah di sini,” ujar seorang kadi yang beroperasi di Bireuen.

Tidak dapat dipungkiri. Keberadaan kadi liar ibarat ‘dewa penolong’ bagi pasangan yang ingin menikah namun terhalang berbagai rintangan. Cukup bermodalkan uang ratusan ribu rupiah maka prosesi ijab kabulpun selesai. Walaupun tidak mengantongi akta nikah, namun menikah instan yang ditawarkan kadi liar menjadi jalan pintas yang dianggap pantas.

Praktik kadi liar secara tegas juga diatur negara. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan tindakan menikahkan seseorang tanpa tercatat pada KUA termasuk tindakan pidana pelanggaran bukan kejahatan.

“Pemerintah harus memberi perhatian, agar kadi liar yang berpraktik ini bisa ditertibkan,” ujar Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Zulkarnaini MAg kepada, Jumat 11 April 2014.

Menurutnya, menikah resmi melalui pencatatan negara di KUA hanya butuh biaya Rp 30.000. Biaya ini jauh lebih murah dibandingkan dengan menikah pada kadi liar yang mencapai ratusan ribu. Hanya saja, kata dia, pasangan yang menikah lewat pencatatan KUA, wajib mengikuti prosedur yang diatur negara. “Salah satunya memiliki wali yang sah,” tegasnya.(




ADA dua bentuk nikah pada kadi liar yang kerap terjadi di masyarakat. Pertama, pernikahan yang dihadiri wali nasab kedua belah pihak perempuan dan laki-laki yang dinikahkan oleh kadi. Wali nasab adalah lelaki beragama Islam yang berhubungan darah dengan calon mempelai wanita dari pihak ayah menurut hukum Islam. Pernikahan semacam ini, dinilai sah menurut agama tapi tidak diakui negara karena tidak masuk dalam pencatatan administrasi negara di KUA.

Kedua, pernikahan yang terjadi tanpa dihadiri wali nikah baik dari laki-laki maupun perempuan. Kadi bertindak sebagai wali hakim atas pasangan yang menikah. Pernikahan seperti ini dinilai tidak sah menurut agama dan juga tidak diakui negara.

Menurut negara, wali hakim yang sah itu adalah wali yang ditunjuk negara. Hal ini sebagaimana diatur dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia pada pasal 1 sub b diterangkan: “Wali hakim ialah wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan wewenang untuk bertindak sebagai wali nikah”. Sementara dalam kasus nikah pada kadi liar kedudukan wali tidak jelas, dan banyak yang meragukan.

PRAKTIK kadi liar juga marak di Nagan Raya. Para peminat jasa penghulu ini terbilang lumayan tinggi. Mulai dari pejabat hingga pasangan muda perawan.

Menurut seorang kadi di Nagan Raya, proses pernikahan menggunakan jasanya bertarif Rp 500.000-Rp 1 juta sekali ijab kabul. Proses penikahan di jalur instan ini pun tidak membutuhkan kehadiran wali mutlak.

“Kehadiran orang tua atau wali dari perempuan yang akan dinikahi bisa diwakili dengan selembar kuasa yang diteken wali calon pengantin perempuan dan dibubuhi materai 6000,” kata sang kadi, Minggu 13 April 2014.

Uang ini digunakan untuk biaya saksi nikah serta sejumlah keperluan lainnya. Prosesi pernikahan paling banter memakan waktu satu jam, dan sesuai dengan pernikahan pada umumnya. Pasangan yang menikah menggunakan jasa kadi ini tidak memperoleh buku nikah dan tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA). “Mereka hanya mendapat surat keterangan saja bahwa sudah menikah,” ujarnya.

Menurut pengakuan kadi tersebut, dirinya sudah menikahkan banyak pasangan. “Mungkin sudah seribuan orang yang saya nikahkan. Saya melakukannya atas permintaan mereka, setelah melengkapi sejumlah persyaratan yang diperlukan,” kata kadi yang tak mau disebutkan namanya ini.

Ia menuturkan, alasan menjadi kadi untuk membantu pasangan yang bersangkutan, agar mereka terhindar dari perbuatan zina, lantaran hubungan cinta mereka tak direstui orang tua.

“Daripada mereka berzina dan berdosa besar, maka lebih baik dinikahkan. Apalagi mereka juga membawa surat wakilah dari wali perempuan dan hal ini sudah sah untuk dinikahkan,” terangnya.

Tidak hanya para perawan, jasa para kadi liar ini juga banyak diincar kalangan pengusaha dan pejabat di Nagan Raya maupun Aceh Barat. Sebagian para pejabat ini menikah lewat jalur jasa kadi agar tidak diketahui oleh istri pertamanya. Bagi para pejabat, ada anggapan jika mereka ketahuan akan merasa malu. “Tak etis jika kita sebutkan siapa orangnya, ini kan rahasia,” kilahnya sambil tersenyum.

Selain kalangan pejabat, pengusaha serta masyarakat biasa juga banyak memakai jasa kadi liar. Beberapa alasan di antaranya didorong karena hubungan rumah tangga yang retak, tak cinta lagi dengan pasangan, serta berbagai faktor lainnya.

Sebagai Teungku Kadi, pria paruh baya ini mengaku tidak merasa bersalah. Lantaran ia hanya menyelamatkan pihak yang ingin berbuat dosa dengan melakukan perbuatan zina. Di kalangan masyarakat keberadaan Teungku Kadi juga mendapat tempat.

“Banyak masyarakat yang tak mau berurusan dengan KUA memilih menggunakan jasa teungku kadi. Selain efisien, persyaratannya juga tidak rumit,” kata seorang wanita di Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Minggu 13 April 2014.

Umumnya masyarakat di desa tidak mau berurusan dengan KUA. Selain jarak tempuh yang jauh ke ibu kota kecamatan, mengurus surat nikah juga terkesan rumit dan berbelit-belit. Sehingga mereka memilih jalur instan menggunakan jasa kadi, asal sah menurut agama.