Selasa, 22 Februari 2011

Mengurus Paspor di Batam seperti Mengemis

Proses pengurusan paspor di Kantor Imigrasi Batam benar-benar penuh "perjuangan". Para pemohon harus rela menunggu hingga berjam-jam.

Tidak saja kehilangan banyak waktu, kondisi seperti ini  juga memakan banyak energi. Hembusan hawa sejuk yang menyeruak dari air conditioner (AC) dan kipas di ruang tunggu, sepertinya tak lagi terasa. 

Kondisi menurut para pemohon sudah menjadi pemandangan biasa, hampir setiap harinya. Hampir setiap hari pula, sumpah serapah keluar dari mulut mereka yang tengah kesal. 

Seorang pengurus paspor, sebut saja Dewi, harus menunggu selama  7 jam, dari pukul 08.00 hingga pukul 15.00 WIB, hanya untuk menunggu dipanggil petugas di loket permohonan. 

"Saya antre sudah sejak pagi jam 8 pagi bersama anak saya, tapi sampai jam 3 sore ini, masih belum dipanggil. Saya sebenarnya sudah memasukkan berkas permohonan sejak pagi, tinggal nunggu panggilan saja, tapi tak juga dipanggil-panggil," ujar Dewi, Selasa (22/2). 

Wanita berjilbab ini sebelumnya sudah bertanya ke petugas di loket. Namun bukan jawaban yang ia dapatkan, justru si petugas terlihat bingung. Si petugas masih sempat melempar seulas senyum, sembari mengemasi berkas yang ada di mejanya. 

Namun Dewi masih saja gelisah. Melihat kegelisahan Dewi, sepintas kemudian, si petugas itu kikuk dan membuang pandangan ke petugas lain di ruang itu. Tak ada jawaban yang terlontar dari mulutnya.

Sementara Dewi seolah masih tak puas. Tidak saja Dewi, namun di sekitar Dewi juga terdapat beberapa pemohon, yang mengalami kejadian serupa. 

Dewi mengaku, ketika mengambil nomor, ia memperoleh nomor antrean 92. "Saya mengurus paspor kok seperti mengemis ya," ungkapnya penuh iba di depan loket 4.

Ungkapan Dewi ini bukan tanpa alasan. Yah, betapa tidak, Dewi sudah mengorbankan waktunya seharian, hanya untuk menunggu panggilan dari petugas melalui pengeras suara, namun tak kunjung dipanggil jua.

Sejak datang ke Kantor Imigrasi, Dewi sudah sempat heran. Pasalnya, saat pagi hari tiba di Kantor Imigrasi, antrean sudah mencapai puluhan orang kendati masih relatif sepi. "Waktu saya datang sudah ada antrean," terangnya.

Bagi Dewi, antre selama apapun tak jadi masalah. Hanya saja, petugas seolah mendahulukan mereka yang memasukkan berkas melalui calo dan biro. Sehingga nomor antreannya "tergilas". Kendati nomornya sudah terlewat namun Dewi semula masih sabar menunggu.

"Sebaiknya Imigrasi menggunakan mesin antrean saja. Jadi siapa yang datang duluan bisa lebih dahulu dipanggil, bukan seperti sekarang," ungkapnya. 

Hingga kini memang Imigrasi Batam masih menggunakan sistem antrean manual berbentuk kertas yang dibagikan dua orang petugasdi sisi sebelah kiri lokasi pengurusan paspor. 

Selain Dewi juga ada beberapa orang lainnya bernasib serupa. 
"Kalau ngurus sendiri ya begini jadinya. Saya nunggu dari pagi juga belum dipanggil-panggil," ujar seorang pria paruh baya. Pria itu menduga, nomornya terhimpit berkas yang masuk melalui jalur belakang atau melalui calo. 

Pria itu mengusulkan, sebaiknya pihak Imigrasi memisahkan antara pengurusan yang melalui calo dan biro, dengan masyarakat umum, yang tak mengerti seluk beluk jalan "pintas". 

"Loketnya sebaiknya dipisahkan saja. Kalau untuk calo dan biro loket ini, dan kalau untuk masyarakat umum ini. Jadi nomor antrean kita tidak terhimpit," ujarnya berharap.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar